Blog

Lika liku menuju Jerman

Sudah empat tahun aku berada di Jerman: Satu tahun aku habiskan dengan menjadi Aupair di keluarga angkatku yang alhamdulillah masih berhubungan baik sampai sekarang, dua tahun aku habiskan untuk belajar bahasa Jerman (yang susahnya amit-amit) dengan intensif dan satu tahun terakhir aku menjalani nasibku menjadi seorang mahasiswa Universitas Trier jurusan Erziehungswissenschaften a.k.a. jurusan ilmu pendidikan.

Aku ke Jerman bukan karena aku anak orang kaya atau aku pinter nggak ketulungan sehingga aku dapat beasiswa, bukan. Aku ke Jerman karena aku saat itu mau menjauhi mantan pacarku yang selalu ngerasa kalau aku terlalu menyita waktunya dengan minta ketemu tiap hari, padahal mah nggak sama sekali. Wajar kali ya kalau nanya dia mau datang ke tempatku atau nggak, supaya aku bisa membuat rencana lebih baik. Tapi dasar dia kepedean, aku nanya begitu dia nyangka aku ingin ketemu, padahal nggak. Yaudah, aku putusin untuk menjauhi dia dengan pergi ke Jerman, biar nyaho kan, giliran dia yang mau ketemu pan susah.

Selain itu, dulu aku sempat kuliah di salah satu universitas di Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Jerman. Jangan bayangin kalau aku ke Jerman sudah fasih cas cis cus bahsa Jerman, nggak sama sekali. Aku bahkan baru mulai menyukai bahasa Jerman di semester akhir, pada masa-masa menulis skripsi, itu juga karena aku dapet dosen pembimbing yang nyeremin abis, killer, perfeksionis, hhhhhh… petaka kalau kali itu aku mikirnya. Tapi sekarang justru aku bersyukur sekali sudah dibimbing oleh beliau, mungkin kalau dosen pembimbingnya bukan beliau aku nggak akan kepikiran untuk belajar bahasa Jerman lebih tekun lagi.

Jujur aku setengah hati kuliah di jurusan bahasa Jerman, soalnya saat itu yang aku inginkan kuliah di jurusan bahasa Jepang. Tapi karena sepupu yang waktu itu mengantar aku daftar kuliah memburu-buru aku untuk cepat menyerahkan aplikasi pendaftaran, akhirnya aku mengisi kode bahasa Jerman sedangkan mataku membaca kode bahasa Jepang. Fix salah jurusan. Tapi diakhir-akhir aku malah suka bahasa Jerman, mulai ngerjain soal-soal dan tugas semester satu sampai semester terakhir dalam waktu dua minggu. Cuma aku nggak mungkin lagi belajar bahasa Jerman di kampus, aku juga nggak mau les bahasa Jerman selepas kuliah, sampai akhirnya kepikiran kenapa nggak belajar langsung di negaranya?

Aku yang bukan anak orang kaya, langsung nyari informasi gimana caranya ke Jerman dengan modal uang pas-pasan. Setahu aku, dari angkatanku ada beberapa orang mahasiswa yang saat itu berangkat ke Jerman. Aku juga tahu kalau mereka yang saat itu berangkat ke Jerman bukan anak orang kaya, tapi intinya mereka bisa ke Jerman, gimana caranya? Aku mulai tanya-tanya ke teman-teman, ada yang ngasih informasi tapi setengah-setengah, mungkin karena mereka ingin bantu tapi mereka juga nggak tahu tepatnya gimana, tapi ada juga yang jelas-jelas tahu informasinya dengan jelas tapi menutup informasi sama sekali, yasudahlah nasib harus nyari sendiri.

Berbekal kuota modem yang baru di isi, aku mencari informasi mengenai cara ke Jerman yang ternyata di internet banyak banget informasi mengenai ini dan aku mulai tahu dari situ bahwa temanku yang ke Jerman saat itu untuk menjadi Aupair. Aku kumpulkan segala informasi mengenai Aupair, apa persyaratannya, berapa biayanya sampai bagaimana caranya untuk mendapatkan keluarga yang bersedia menjadi host family selama satu tahun, semuanya aku kerjakan sendiri.

Di saat ada keluarga yang sudah bersedia menjadikanku Aupair di tempatnya, masalah justru aku dapat dari keluargaku, mereka nggak mendukungku sama sekali untuk ke Jerman menjadi Aupair. Kuliah lama dan mahal hanya untuk jadi TKW di Jerman, memalukan bo, yes wajar kalau keluargaku sampai berpikiran begitu tapi mau gimana lagi, cuma itu salah satunya cara supaya aku bisa belajar bahasa Jerman langsung di negaranya. Waktu mencari-cari host family yang cocok dengan kriteriaku juga itu nggak mudah, karena belum tentu juga aku memenuhi kriteria mereka. Kalau pun kriterianya cocok, salah satu kendala yang menjadikan alasan aku ditolak banyak keluarga saat itu yaitu kerudung dan Islam. Lagi-lagi wajar kalau para host family itu agak was-was untuk memiliki Aupair beragama Islam yang berkerudung, secara image Islam saat itu nggak begitu baik dikalangan dunia internasional. Sampai akhirnya aku menemukan host family aku, mereka mau menerima Aupair yang Islam dan berkerudung, tapi itu juga nggak lantas aku langsung diterima jadi Aupairnya. Aku sempet ditolak oleh mereka karena aku kandidat yang ketiga, tapi karena aku terlanjur menambahkan keluarga itu di Facebook sebagai teman, akhirnya kami pun kembali menjalin kontak dan aku kembali ditanya apa aku masih tertarik untuk menjadi Aupair di keluarga mereka atau nggak, karena kandidat Aupair yang pertama dan keduanya menolak tawaran untuk jadi Aupair di keluarga tersebut karena kandidat yang pertama akan meneruskan studi di negara asalnya dan kandidat yang kedua diterima kerja jadi pramugari di salah satu maskapai nasional di negaranya.

Setelah deal menjadi Aupair di keluarga tersebut, kontrak kerja pun dikirimkan, melalui pos dan juga melalui email. Isi kontrak kerjanya yaitu kegiatan apa saja yang harus aku lakukan selama menjadi Aupair di keluarga tersebut. Alhamdulillah tugasnya tidak begitu berat karena anak yang harus aku dampingi umurnya sudah delapan tahun dan adiknya yang laki-laki berkebutuhan khusus dan umurnya enam tahun saat itu. Selain kontrak kerja, host family juga mengirimkan lampiran surat keterangan bahwa aku terdaftar memiliki asuransi kesehatan yang ternyata kepemilikan asuransi kesehatan di Jerman itu wajib hukumnya.

Aku yang saat itu belum memiliki passpor, langsung sibuk mempersiapkan dokumen kelengkapan untuk mengajukan pembuatan passpor. Ternyata nama di KTP dan Akte Kelahiran milikku berbeda dan itu harus disamakan terlebih dahulu, baru aku bisa membuat passpor. Selain itu, aku juga harus memiliki sertifikat kemampuan bahasa Jerman minimal level dasar (A1), jadi saat itu juga aku mendaftarkan diri untuk ikut ujian A1 di Goethe Institut Bandung. A1 saja ujian yang aku ikuti kali itu, karena aku takut nggak lulus kalau sok-sokan ikut ujian yang levelnya di atas itu. Untuk pembuatan visa ternyata harus membuat janji dulu dengan kedutaan Jerman di Jakarta, aku pikir membuat janjinya harus datang kesana tapi ternyata lewat internet. Tinggal masuk ke situs kedutaan Jerman di Indonesia lalu pilih appointment untuk pengajuan visa.

Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Passpor selesai dibuat, ujian A1 juga lulus dengan nilai yang memuaskan (malu dong kalau nilainya jelek apalagi kalau sampai nggak lulus), visa juga selesai dalam waktu tiga minggu. Akhirnya tanggal 15 September 2012 aku berangkat ke Jerman diiringi isak tangis keluarga, karena aku belum pernah pergi sendirian sampai sejauh itu, di Indonesia aja aku belum kemana-mana, ke Jakarta aja baru 3 kali, parah kan? Jadi wajar kalau aku ke Jerman kali itu keluarga yang mengantar pada nangis, apalagi mama. Tapi sabar aja, toh setahun itu nggak lama. Ternyata sampai tahun keempat aku masih juga ada di Jerman, alhamdulillah. Semuanya yang terjadi padaku seperti kebetulan-kebetulan yang tersusun dengan sangat baik. But, in the end I have to say, that life is not merely a series of meaningless accidents or coincidences. But rather, it’s a tapestry of events that culminate in any exquisite, sublime plan. Notice how every major events in your life somehow leads up to the next and connected.

I’m not a mother (yet)

Tanggal 22 Desember kemarin seharusnya aku mulai kedatangan tamu bulanan, tapi sampai tanggal 27 Desember masih juga “Si Tamu” belum kelihatan tanda-tanda kedatangannya. Antara deg-degan senang kalau ternyata dalam sembilan bulan kedepan aku akan jadi seorang Mommy, tapi di sisi lain aku juga takut bahwa aku hanya telat biasa (walaupun telatnya sampai lima hari) yang disebabkan oleh pil KB yang aku minum dua minggu sebelum menikah. Ya, kali itu aku dan suami terlalu takut untuk langsung punya anak, karena kami berdua sama-sama masih berjuang dengan sekolah kami masing-masing. Disamping itu, suami juga masih dalam tahap penyembuhan dari sakit TBC Tulang yang dideritanya, yang pengobatannya baru akan berhenti total bulan Juni tahun 2017 nanti. Kami terlalu takut dengan semua hal-hal tersebut sampai melupakan Sang Maha Pengatur segalanya.

Pada masa awal-awal aku meminum pil KB, aku mengalami pendarahan yang lamanya sampai 40 hari yang menjadikan suami aku menjadi laki-laki tersabar yang pernah aku temui. Disaat pengantin baru disibukan dengan bercandaan-bercandaan mengenai malam pertama, dia harus bersabar menemani aku di kamar hotel yang merasa lemas dan pusing karena pendarahan yang tidak juga kunjung berhenti. Sehari setelah menikah kami pergi ke Pangandaran, hanya untuk makan seafood dan tumis kangkung, selebihnya kami habiskan dengan ngobrol-ngobrol dan tidur dengan saling berpegangan tangan. Sampai akhirnya kami kembali ke Jerman, aku masih juga mengalami pendarahan yang menjadikan suami setiap hari membujuk aku untuk pergi ke rumah sakit karena aku sering keliahatan merasa kelelahan dan tertidur di atas sofa di rumah kontrakan baru kami, di antara tumpukan barang-barang yang masih berserakan.

Hal tersebutlah yang menjadikan suami melarang aku untuk meminum pil KB lagi. Entah akan langsung punya anak atau tidak, yang jelas kami mulai memasrahkan segala urusan kepada Sang Maha Tahu, Dialah yang maha tahu segala yang baik untuk kami. Makanya disaat aku telat sampai lima hari, aku merasa deg-degan apakah kami benar-benar akan menjadi orang tua di penghujung tahun depan. Ternyata pada tanggal 27 Desember sore harinya “Si Tamu” datang juga. Aku sempat berpikir bahwa darah yang keluar adalah darah yang keluar pada saat masa pembuahan karena warnanya merah muda. Ternyata keesokan harinya darah tersebut keluar semakin banyak dan berwarna agak kecoklatan. Tes kehamilan juga menunjukan garis satu, yang menjadi tanda bahwa aku tidak hamil.

20161228_123616

Keesokan paginya sekeluarnya aku dari kamar mandi, aku langsung┬á memeluk suami yang masih ngantuk-ngantuk, sambil sesenggukan meminta suami untuk bangun solat subuh. Solatnya sendiri karena ternyata aku sedang nggak solat. Dia memeluk aku saat itu yang menangis sesenggukan dan memintaku untuk bersabar. Iya, seharusnya aku bersabar dan nggak boleh terlalu bersedih. Aku harusnya tetap bersyukur karena aku masih diberi waktu untuk melayani suami lebih baik lagi, masih bisa pacaran dan mengenal dia lebih baik lagi ­čÖé

Cemburu dan Masa Lalu

Beberapa hari lalu aku membaca salah satu postingan temanku di Facebook. Temanku ini mengutarakan kekecewaannya karena ada salah seorang perempuan yang mengucapkan selamat ulang tahun pada suaminya melalui pesan langsung “Perempuan yang kirim pesan pribadi untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke suami orang lain, tergolong perempuan-perempuan yang minta disumpahin cepet nikah biar ga caper lagi sama suami orang”, begitu kira-kira isi postingan teman saya itu.

Lalu tadi pagi saat mau siap-siap untuk sarapan, aku iseng liat-liat postingan foto di Instagram sampai akhirnya aku menemukan postingan video punya suami yang ia post kemarin. Aku membaca sebaris kalimat di kolom komentar video tersebut “Baru aja dimimpiin, eh muncul di timeline wkwk” dari mantannya. Aku melirik ke arah suami yang saat itu ada disebelah, suami rupanya sadar kalau aku udah agak lama ngeliatin dia, lalu dia mengusap-usap kepalaku, adem rasanya saat itu tapi entah kenapa ada perasaan lain yang saat itu aku rasakan. Cemburu kah?

Ini sudah kedua kalinya aku dapati mantannya mengomentari postingan suami di sosial media. Sebenarnya hanya sekali mantannya berkomentar di postingan suami, yang satu lagi (ini yang pertama) mantannya berkomentar “lol” dipostingannya sendiri yang merupakan foto suami dan (yang saat itu menjadi) pacarnya sedang membuat manusia salju, foto kenangan mereka dua tahun yang lalu. Hhhhhh, kenapa sih sosial media sekarang malah memunculkan kenangan lama yang sepertinya kok menyakitkan ya kalau aku liat dan membayangkan keakraban mereka dulu.

Aku iseng-iseng ngobrol ke suami “Duh, gaya nih, ada yang baru dimimpiin” suami awal-awalnya kebingungan waktu aku bilang kayak gitu pagi tadi, tapi pas sore aku bilang kayak gitu lagi rupanya suami sudah tahu apa yang aku maksud. “Kamu cemburu?” aku langsung menjawab “Nggak” karena aku ga tahu apa yang saat itu aku rasa. Aku juga takut kalau memang ternyata aku cemburu, karena sepertinya aneh dulu aku ga pernah cemburu sama sekali saat suami membicarakan pacarnya (saat suami belum melamar aku) tapi kenapa sekarang setelah menikah aku merasa kayak gini, aneh kah?

Salah satu teman kami bilang “Seharusnya lu ga cemburu lagi, ngapain coba? Kan lu udah nikah sama suami lu” tapi yang namanya perasaan ga bisa dibohongi. Wajarkah kalau aku seperti ini? Apalagi suami pernah menjawab bahwa di satu sisi aku dan mantannya memiliki sifat yang sama. Bodohnya aku saat itu, kenapa aku harus bertanya apa suami masih ingat mantannya atau ga. Ingin aku memutar waktu supaya pertanyaan bodoh itu ga pernah terlontar supaya aku tidak usah mendengar jawaban yang entah kenapa terasa menyakitkan.

Apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa berdamai dengan hati?

 

Suamiku,
Sering aku bertanya, apakah masih kamu memikirkan tentangnya?
Tentang dia yang bertahun-tahun bersamamu, menyayangimu, cemburu pada siapapun yang dekat denganmu.
Diakah yang kamu lihat saat kamu melihatku?
Diakah yang kamu ingat kala kamu memperhatikanku?
Sering aku bertanya, kapan aku mulai cemburu padamu?
Bukankan kita bermula dari dua sosok yang sama sekali tak saling mengenal?
Semakin banyak waktu yang kita lalui bersama membuat perasaanku padamu bertambah dan semakin bertambah.
Semakin kupikir, semakin aku menyadari, bahwa pada detik pertama aku cemburu, aku telah jatuh cinta kepadamu.

 

Hamil itu Bukan Perlombaan

Beberapa hari yang lalu aku mendapat telepon dari keluargaku di Indonesia, tepat satu hari sebelum pernikahan adik. Aku senang bisa ngobrol dengan keluarga yang ada disana, karena lain dengan suamiku yang bisa kapan aja menghubungi keluarganya entah itu lewat Line, WhatsApp maupun Skype, keluargaku agak-agak ketinggalan zaman. Mama yang gak pernah ingin punya smartphone karena gak bisa makenya, bapak yang ga pernah bisa buka sms, ibu yang jarang megang hp walaupun cuma ibu yang bisa pakai smartphone di antara orang tuaku yang lainnya tapi tetap aja ibu gak tahu gimana caranya isi kuota.

Percakapan di telepon kali itu gak jauh-jauh mengenai seputar pernikahan yang akan berlangsung keesokan harinya. Terlalu banyak yang ingin aku tanyakan tapi sayangnya adikku waktu itu sibuk sampai akhirnya aku berbicara dengan salah seorang anggota keluargaku yang lain. Beliau bertanya “Gimana kabarnya? Udah isi belum?”, aku yang saat itu lagi nyuci piring spontan menjawab “Alhamdulillah. Belum”. Alhamdulillah untuk pertanyaan “Gimana kabarnya?” dan belum untuk pertanyaan yang satunya. Tapi respon dari seberang sana cukup membuat aku kaget. “Yee, belum isi kok alhamdulillah? Teu bisaeun ah*”.

Aku langsung nyengir-nyengir gak jelas saat itu. Untungnya itu cuma telepon biasa, bukan video call, seandainya itu video call pasti lawan bicara aku saat itu bakal ngeliat jelas ekspresi wajah aku yang kebingungan. Iya, bingung, kenapa harus ada kalimat “teu bisaeun”, seolah-olah siapa yang hamilnya cepat berarti mereka handal dalam membuat anak. Aku sudah bosan dengan respon masyarakat Indonesia yang seolah-olah sesuatu yang waktunya lama itu tampak seperti ketidakcakapan. “Kok belum nikah? Gak kepengen apa?”, “Kok belum hamil-hamil? Bilang suaminya, yang jago gitu” dan komentar-komentar lain sebagainya. WTF, padahal jodoh dan anak itu merupakan pemberian Tuhan yang ga pernah kita tahu kapan datangnya. Kita sebagai manusia cuma bisa bersabar, berdoa dan ga pernah berhenti buat berusaha.

Ngomong-ngomong, mulai dari akhir minggu lalu aku ngerasa perut aku sakit banget, rasanya kayak tegang, kram, kayak yang ditarik ke samping. Selain itu bagian panggul juga sakit, pegel kayak sakit kalau mau dapet tamu bulanan. Kepala pusing minta ampun, badan lemes terus bawaannyaa, rasanya kayak pengen sendawa terus tapi yang keluar malah muntah, mual-mual dan ga kepengen banyak makan makanan berat. Selang-seling badan rasanya kayak anget, kayak demam, tapi cuma sementara, dada juga sakit. Kenapa ya?

Suami bilang itu tanda-tanda kehamilan, semoga aja iya, aamiin. Tapi aku takutnya badan aku jadi begini karena aku berenti minum pil KB dan terjadi perubahan hormon. Bismillah, tanggal 20 Desember aku mau ke dokter kandungan untuk kontrol rutin sekalin mau ngebahas mengenai laparoskopie, apa aku masih tetep harus menjalankan prosedur itu atau ga. Semoga aja di perut aku emang udah ada si ciliknya, aamiin.

 

*Teu bisaeun: Gak jago, gak cakap, gak handal dalam melakukan sesuatu.

What if your little sister, is not little anymore?

Hari ini, 11 Desember 2016, merupakan hari yang paling menyedihkan dalam sejarah hidupku sebagai seorang kakak. Adik, kembaran (sebenernya umurnya beda setahun), saingan terberat, sahabat terdekat hari ini melangsungkan pernikahannya. Adikku hari ini resmi dipersunting oleh laki-laki yang setahun belakangan ini menjadi pacarnya dan hari ini mereka telah sah menjadi sepasang suami istri.

1937493_10203565765358827_2036706478880710331_n
Me (Right, Yeah, I’m always right), my sister

Gimana ga sedih, aku hanya melihat prosesi ijab kabul adikku melalui Facebook live yang disiarkan secara khusus oleh bapak mertua terbaik yang pernah aku punya. Mulai dari jam 2 dini hari aku dan suami dengan setia mengikuti prosesi acaranya dimulai dari mapag panganten (FYI, keseluruhan upacara pernikahannya menggunakan upacara adat sunda), pengalungan mangle (kalungan bunga melati) kepada calon suami adikku oleh mama, ijab kabul, suapa-suapan, sungkem dan saweran. Aku dan suami hanya sanggup bertahan sampai saweran, pas bagian kirab pengantin kami tonton saat kami bangun tidur.

Aku senang melihat adikku bahagia, akhirnya ada laki-laki yang akan selalu menjaga dia dan aku harap dia ga akan pernah lagi merasakan patah hati. Selama prosesi pernikahan berlangsung aku masih bisa tersenyum-senyum, ga ada rasa sedih sedikitpun melihat keseluruhan rangkaian prosesi pernikahannya sampai akhirnya tiba-tiba aku menyadari bahwa mulai dari hari ini adikku ga akan lagi merengek-rengek padaku. Adik kecilku sekarang sudah menjadi seorang wanita dewasa yang seutuhnya. Tanpa terasa aku mulai menelusuri foto-foto yang pernah kami ambil bersama dan mataku berhenti pada sebuah foto dimana aku dan adikku berdiri saling berangkulan dan kami mengenakan baju yang sama seperti layaknya anak kembar.

Aku nyalakan laptopku dan mulai menulis surat pendek kepada adikku. Aku minta suamiku untuk membaca kembali suratnya karena surat itu aku tulis dalam bahasa Inggris dan aku akui bahwa sekarang kemampuan bahasa Inggrisku sudah tidak sebaik dulu, whatever. Selama aku menulis surat pendek untuk adikku, otak dan perasaanku dibanjiri kenangan-kenangan yang pernah kami lalui bersama. Aku ingat kalau aku pernah memarahi adikku habis-habisan hanya karena dia memakan potongan kecil dari coklat yang aku punya yang ingin aku bagi pada temanku. Masih hangat di ingatanku kalau adikku saat itu menangis dan menjelaskan kalau coklat yang dia makan coklatku karena temanku, Ineu, memberikan coklat itu padanya, tapi aku marah dan tidak mendengarkan penjelasan adikku sedikitpun. Andai aku bisa kembali ke masa itu, aku akan menahan diri untuk tidak memarahi adikku dan membuat dia menangis karena pada akhirnya aku menyesali apa yang pernah aku lakukan, walaupun mungkin semuanya sudah terlalu terlambat untuk disesali dan entah adikku masih ingat atau tidak.

Suamiku membaca surat yang aku tulis lalu dia memintaku untuk membacanya dengan jelas karena suamiku ingin tahu bagaimana perasaanku saat aku menulis surat itu dan tanpa terasa air mataku mengalir.

Dear sister,

there was a time in our life to be a twins-look-like, we wore a similar outfits most of the time in our life.
We played together, gone to the same school even we’ve been placed in the different grade and class, we smiled together, we laughed so hard, we cried,
we argued and sometimes we fought over something silly.
That time, we used to share all of our happy and sad stories, our failures and achievements, loves and broken hearts.
For about two months, I have someone to share everything with, but your place is never be replaced, you know that, right?
And now you have someone to share everything with too, who cares about you, loves you as you are and he’ll be by your side and I hope your heart will never be broken again.
It’s hard for me to believe that you’re reading this thousands miles across the sea and I’m sorry that I can’t be there on your wedding day.
But you know I’m by your side, even if I’m not.

With Love,
Sister

P.S.: You look pretty in that wedding dress, keep shining and be brilliant

 

Selamat menempuh hidup baru adik tersayang, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, aamiin.

Ini (bukan) cinta Vitri

Kau bukan yang aku segerakan dalam doa, karena Allah maha tahu kapan hatiku siap akan hadirmu.
Hanya saja selalu pada Allah aku pinta, siapapun dia, agar aku bisa ikhlas menerimanya karena dia merupakan yang terbaik pilihanMu, sehingga aku tak lupa akan nikmat bahwa semua pemberianMu adalah baik, sehingga aku tidak menuntut kesempurnaan bila ada jodoh terbaik yang Allah tetapkan sebagai penyempurna agama.
Bilamana tak sesuai, semoga Allah baikkan hatiku untuk menuntunnya menjadi lebih baik. Bila dia lebih baik, gerakan hatinya untuk menyertai aku menuju baik.
Aku menikah bukan karena aku jatuh cinta, aku hanya berharap bahwa bersamanya menuju surga terasa semakin dekat – Trier, 9. August 2016

 

Dari dulu aku selalu suka dengan semua cerita Disney, karena semuanya berakhir dengan bahagia, happily ever after, putri bertemu dengan pangerannya dan terbebas dari kutukan penyihir jahat atau ibu dan saudara tiri yang punya sifat iri dan dengki. Aku selalu berpikir, laki-laki seperti apa yang akan jadi suamiku kelak? Apakah pacar yang ini, ataukah yang itu, ataukah laki-laki yang mengirim pesan di Facebook dan mengajak aku kenalan, apakah salah satu di antara mereka yang kelak akan jadi pasangan sehidup sesurga buatku nanti? Ternyata bukan.

Ternyata laki-laki yang menjadi suamiku adalah dia yang sama sekali tidak aku kenal, semuanya berjalan begitu cepat. Ya, sangat cepat malah dan kalau aku ingat ternyata semua yang aku dapatkan sekarang merupakan jawaban atas segala doa yang dari zaman SMP selalu aku rapalkan “Jika dia memang jodohku maka pertemukanlah kami bagaimanapun caranya, dalam waktu yang singkat, dengan proses yang sangat mudah dan sederhana”.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cerita cinta kami

Semuanya berawal dari kepindahan suami ke kotaku, Trier. Kuliahnya dengan terpaksa harus berhenti dan supaya suami masih bisa berkuliah di Jerman, mau ga mau dia harus mencari universitas yang saat itu bisa menerimanya. Suami cerita kalau dari dulu dia ingin kuliah di Trier, tapi ketika dia mendaftar kali itu sayangnya aplikasinya ditolak karena proses pendaftarannya yang salah, entah bagaimana. Aku ga ngerti kenapa dia pindah dari K├Âthen dan berkuliah di Mannheim, karena hanya ada dua kota yang universitasnya mempunyai jurusan yang suami minati, di K├Âthen dan Trier, tapi ya mungkin cerita kami alurnya harus seperti ini ­čÖé

Saat itu, suami bilang semua universitas sudah menutup pendaftaran untuk Sommer Semester 2016/2017 tapi hanya Trier yang belum, Hochschule Trier memperpanjang masa pendaftarannya dan suami mencoba lagi untuk daftar dan akhirnya diterima, alhamdulillah. Setelah dia mendapat surat penerimaan dari kampus, suami langsung mencari tempat tinggal di Trier, dia mengirim lebih dari lima aplikasi tempat tinggal tapi hanya St. Josefsstift yang membalas. Akhirnya suami berangkat ke Trier dan dia bertemu dengan Frau Drach yang merupakan penanggungjawab di St. Josefsstift dan diajaklah suami melihat kamar di lantai 3. Frau Drach bilang itu kamar pertama dari lima kamar yang bisa suami pilih untuk ditempati, masih ada empat kamar lainnya yang akan Frau Drach tunjukkan, tapi suami yang kali itu merasa kurang fit menolak untuk melihat empat kamar lainnya dan memilih untuk langsung mendatangani surat kontrak. Selesai.

Bulan Maret 2016, salah seorang kakak kelas waktu zamannya kuliah di Bandung dulu menghubungi aku, dia pengen kami meet up, karena saat itu aku belum mulai kuliah dan waktu juga kebetulan senggang, akhirnya aku iyakan ajakannya tapi dia minta aku untuk ngejemput orang di Linz. Katanya satu almamater juga di Bandung tapi mungkin aku ga kenal, aku pun menyanggupi karena aku tahu gimana rasanya tinggal jauh dari teman apalagi di kota yang sama sekali terpencil. Berangkatlah aku pertengahan Maret itu ke Linz, lalu ke Bonn dan lanjut ke K├Âln. Tiba saatnya pulang, aku ajak adik kelasku untuk main ke Saarbr├╝cken bertemu dengan teman satu almamater yang lain dan dia pun menyambut ajakan aku kali itu. Akhirnya berangkatlah kami ke Saarbr├╝cken, sepanjang jalan cerita-cerita seru, mengenai kehidupan di Jerman, kabar Bandung, studi sampai masalah percintaan. Adik kelasku ini bilang kalau dia ingin pergi ke Heidelberg untuk ketemu temennya, karena dia dititipi sesuatu oleh ibu temannya itu, tapi saat itu tidak memungkinkan untuk kami melanjutkan perjalanan sampai ke Heidelberg.

Besoknya tiba saat adik kelasku harus pulang, dia kembali menanyakan apakah jauh jarak dari Saarbr├╝cken ke Heidelberg, aku jawab “Jauh, itu berlawanan arah dengan arah kamu pulang sekarang”. Keliatannya dia sedih makanya saat itu aku berkesimpulan bahwa teman Heidelberg ini bukanlah teman biasa.

Sekembalinya ke Trier tepat dimana aku harus giliran untuk piket di asrama. Aku lihat dijadwal piket ternyata team piketnya barengan dengan kamar nomer 2 dan kamar nomer 4. Oh no, kamar no 4 ini penghuninya sering banget ganti-ganti, kalaupun ada yang sewa biasanya ga pernah piket apalagi penghuni terakhir, si Philip Braun, udah keluar minggu lalu. Tapi karena iseng, aku cek papan nama kamar nomor 4, heeyy… ternyata udah ada yang isi, namanya M. Rizki Fikriansyah. Oh ok, lalu aku masuk kamar dan aku tutup pintunya but… wait, itu orang Indonesia? Aku cek sekali lagi papan namanya, ternyata memang orang Indonesia aku ga salah liat, karena teman yang saat itu menumpang tinggal di aku juga memberi statement bahwa itu nama orang Indonesia.

Aku langsung menelepon teman dekat aku, teman bergosip dan langsung bilang kalau kamar nomor 4 udah ada isinya dan yang isi laki-laki orang Indonesia. Ima, nama temenku, langsung nanya “Cakep ga teh? Barangkali jodoh teteh” aku langsung jawab “Mana aku tahu, orang cuma liat namanya doang” lalu dia menyarankan aku untuk stalking Facebooknya, dan ADA! Aku bilang ke Ima kalau orangnya ga ganteng, nyengir melulu dipotonya, amit-amit deh harus jodoh, buat dia aja ambil semuanya, gitu kurang lebih jawaban aku kali itu. “Dulunya dia di Mannheim” aku kasih info tambahan, entah gimana Ima mikirnya dia langsung berasumsi “Jangan-jangan dia gebetannya adek kelas kita itu teh, pokoknya besok aku dateng kesitu untuk mastiin”.

Dasar Ima kepo, dia motoin papan nama si penghuni kamar nomor 4 dan dikirim ke adek kelas kami. Bukan aku yang kirim karena aku merasa kami ga begitu dekat dan tahu apa jawabannya? Ternyata adek kelas kami ini mengiyakan bahwa si nomor 4 itu adalah temennya a.k.a. gebetannya, what a small world. Aku ga tahu kalau adek kelas kami ini ngasih tahu si nomor 4 kalau yang depan kamarnya itu orang Indonesia, kakak kelasnya. Beberapa kali aku papasan di lorong sama si nomor 4, ga pernah sekalipun ngobrol lebih dari “Hi” udah, selesai, ngeloyor ke tujuan masing-masing.

Sekali waktu pernah ngobrol lama, itu juga si momor 4 cuma nanya doang apa aku punya internet apa ga dan apa mau aku share internet sama dia. Aku pernah ngundang dia ke kamar karena kebetulan kali itu ada dua teman laki-laki lainnya di kamar, si nomor 4 ini datang dan ga tahu kenapa kok aku nervous banget, kalau aku gugup biasanya ngomongnya ngelantur ga tentu arah dan bener aja, ditanya dimana town hall jawabannya panjang banget sampai nyambung ke studenten ID, ­čśŽ

Ternyata bener ya, kita harus berbuat baik sama siapa aja, baik yang dikenal ataupun yang ga dikenal sama sekali, karena kita ga tahu darimana datangnya rejeki kita. Pemberi rejeki memang Allah SWT, tapi kita ga akan pernah tahu melalui siapa rejeki tersebut diantarkan kepada kita. Seandainya aku ga ngejemput adek kelas aku, entah dengan cara apa aku dipertemukan dengan suami. Wallahu’alam...

 

 

Berteman dengan endometriosis

Setiap kali aku kedatangan tamu bulanan, disamping waktu datangnya yang ga pernah teratur rasanya juga selalu sakit, panas, kram perut, mual dan muntah hingga nggak sadarkan diri udah pernah aku alamin. Mulai dari yang keluarnya banyak banget sampe bikin keleyengan atau cuma satu dua tetes yang waktu kunjungannya cuma tiga sampai empat hari lalu pergi. Aku pikir hal itu wajar-wajar aja karena hormon setiap orang yang berbeda-beda, tapi katanya untuk perempuan seusiaku (waktu itu aku masih 20 tahun) hal itu udah ga normal lagi, karena biasanya lewat umur 17 tahun siklus bulanan itu sudah mulai teratur dan jelas paternnya. Berbekal ‘katanya’ dan kali itu juga aku sering mengeluh sakit perut yang ga kunjung sembuh, berangkatlah aku ke rumah sakit Al Ihsan diantar oleh pacarku (sekarang udah jadi sang mantan) karena kebetulan kakaknya kerja sebagai perawat disana.

Setelah melalui serangkaian tes, akhirnya dokter yang menanganiku saat itu kalau ga salah namanya adalah Dr. Arif, mengatakan bahwa aku memiliki sejenis myoma atau orang Indonesia lazim menyebutnya dengan miom atau kista. Hanya saja miom yang ada di perut aku ini ga bisa dioperasi karena ini bukan ‘daging jadi’ melainkan seperti luka pada dinding rahim yang diakibatkan siklus haid yang tidak lancar sehingga darah yang keluar masih ‘tersisa’ di dalam rahim, dokter Arif bilang namanya endometriosis.

Sesampainya di rumah aku langsung online dan mencari tahu apa itu endometriosis. Ternyata penjelasannya ga jauh beda dengan yang dokter Arif bilang, bahwa endometriosis itu adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang ada di dalam rahim tumbuh di bagian luar rahim. Biasanya perempuan yang memiliki endometriosis sering merasakan sakit di bagian pelvic dan efek lainnya yang lebih dikhawatirkan lagi yaitu kemandulan. Astagfirullah, cobaan apa yang harus aku jalani, diberi ujian seperti itu, yang bahkan kuliah aja aku belum selesai, mikirin untuk nikah juga belum tapi diberi sakit yang salah satu obatnya yaitu ‘katanya’ dengan melahirkan anak, tapi melahirkan gimana orang kemungkinan untuk hamil aja sulit. Mulai dari saat itu aku rutin terapi hormon, ditahan untuk ga mens selama beberapa bulan dengan harapan disaat darahnya keluar semuanya akan keluar dengan tuntas. Tapi yang ada malah aku jadi sering mendapati gumpalan daging sepanjang 2-3 cm yang keluar bersamaan dengan darah haid, astagfirullah.

Aku merahasiakan dari keluargaku kalau aku memiliki endometriosis, karena mereka pasti akan histeris, khususnya mama. Saat aku berangkat ke Jerman, September 2012, aku masih merahasiakan sakitku ini dari semua anggota keluargaku. Kebayang kalau mereka tahu, pasti aku ga akan dibolehin untuk pergi ke Jerman.

Karena rasa sakit yang aku alami semakin parah, akhirnya tahun 2015 aku datang ke salah satu dokter kandungan di Tasikmalaya, bermaksud untuk mengetahui sebenernya apa sih endometriosis itu sekaligus untuk berkonsultasi akan efeknya nanti. Sayangnya, dokter yang kali itu aku datangi ternyata ga begitu enak untuk diajak berkonsultasi. Menurutku beliau agak memandang remeh segala sesuatu dan tidak mempedulikan perasaan pasien yang sedikitnya ngerasa takut kelak ga akan punya anak dan lain sebagainya, hhh… c’est la vie.

Sampai akhirnya Juni 2016 dimana aku kali itu dipaksa untuk pergi ke dokter kandungan untuk bikin janji konsultasi dan aku baru dapet janji untuk berkonsultasi dengan beliau bulan Juli tanggal 29, lama sih emang tapi ternyata kadang menunggu itu salah satu jalan untuk mendapatkan pilihan yang terbaik. Dokter kandungan yang aku datangi kali ini sungguh baik, dia menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan dan ga sekali pun dia berkomentar yang meremehkan seperti contohnya ‘Lah, jangan terlalu khawatir, nikah aja belum’ seperti dokter kandungan yang kali itu aku kunjungi di Tasikmalaya. Dr. Cartagena menyarankan aku untuk melakukan laparoskopie karena dia bilang endometriosis hanya bisa dikatakan begitu bila sudah dilakukan laparoskopie selain itu semuanya masih belum bisa diputuskan dengan pasti. Tapi dokter Cartagena bilang, kalau aku memiliki bentuk rahim yang tidak normal, bentuknya ga bulat seperti telur melainkan seperti bentuk hati yang memiliki dua ‘horn‘. Apa akibatnya kalau orang memiliki bentuk rahim seperti ini, beliau menjawab bahwa disaat kehamilan akan ada resiko bayi lahir prematur atau bahkan mengalami beberapa kali keguguran. Astagfirullah, cobaan apalagi yang harus kami hadapi, tapi aku selalu bersyukur dan bersyukur bahwa Allah memberikan aku pasangan yang begitu peduli dan sayang sama aku, semoga kita bisa menjalani semua ini dengan sabar dan ikhlas, aamiin.