Ini (bukan) cinta Vitri

Kau bukan yang aku segerakan dalam doa, karena Allah maha tahu kapan hatiku siap akan hadirmu.
Hanya saja selalu pada Allah aku pinta, siapapun dia, agar aku bisa ikhlas menerimanya karena dia merupakan yang terbaik pilihanMu, sehingga aku tak lupa akan nikmat bahwa semua pemberianMu adalah baik, sehingga aku tidak menuntut kesempurnaan bila ada jodoh terbaik yang Allah tetapkan sebagai penyempurna agama.
Bilamana tak sesuai, semoga Allah baikkan hatiku untuk menuntunnya menjadi lebih baik. Bila dia lebih baik, gerakan hatinya untuk menyertai aku menuju baik.
Aku menikah bukan karena aku jatuh cinta, aku hanya berharap bahwa bersamanya menuju surga terasa semakin dekat – Trier, 9. August 2016

 

Dari dulu aku selalu suka dengan semua cerita Disney, karena semuanya berakhir dengan bahagia, happily ever after, putri bertemu dengan pangerannya dan terbebas dari kutukan penyihir jahat atau ibu dan saudara tiri yang punya sifat iri dan dengki. Aku selalu berpikir, laki-laki seperti apa yang akan jadi suamiku kelak? Apakah pacar yang ini, ataukah yang itu, ataukah laki-laki yang mengirim pesan di Facebook dan mengajak aku kenalan, apakah salah satu di antara mereka yang kelak akan jadi pasangan sehidup sesurga buatku nanti? Ternyata bukan.

Ternyata laki-laki yang menjadi suamiku adalah dia yang sama sekali tidak aku kenal, semuanya berjalan begitu cepat. Ya, sangat cepat malah dan kalau aku ingat ternyata semua yang aku dapatkan sekarang merupakan jawaban atas segala doa yang dari zaman SMP selalu aku rapalkan “Jika dia memang jodohku maka pertemukanlah kami bagaimanapun caranya, dalam waktu yang singkat, dengan proses yang sangat mudah dan sederhana”.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cerita cinta kami

Semuanya berawal dari kepindahan suami ke kotaku, Trier. Kuliahnya dengan terpaksa harus berhenti dan supaya suami masih bisa berkuliah di Jerman, mau ga mau dia harus mencari universitas yang saat itu bisa menerimanya. Suami cerita kalau dari dulu dia ingin kuliah di Trier, tapi ketika dia mendaftar kali itu sayangnya aplikasinya ditolak karena proses pendaftarannya yang salah, entah bagaimana. Aku ga ngerti kenapa dia pindah dari Köthen dan berkuliah di Mannheim, karena hanya ada dua kota yang universitasnya mempunyai jurusan yang suami minati, di Köthen dan Trier, tapi ya mungkin cerita kami alurnya harus seperti ini 🙂

Saat itu, suami bilang semua universitas sudah menutup pendaftaran untuk Sommer Semester 2016/2017 tapi hanya Trier yang belum, Hochschule Trier memperpanjang masa pendaftarannya dan suami mencoba lagi untuk daftar dan akhirnya diterima, alhamdulillah. Setelah dia mendapat surat penerimaan dari kampus, suami langsung mencari tempat tinggal di Trier, dia mengirim lebih dari lima aplikasi tempat tinggal tapi hanya St. Josefsstift yang membalas. Akhirnya suami berangkat ke Trier dan dia bertemu dengan Frau Drach yang merupakan penanggungjawab di St. Josefsstift dan diajaklah suami melihat kamar di lantai 3. Frau Drach bilang itu kamar pertama dari lima kamar yang bisa suami pilih untuk ditempati, masih ada empat kamar lainnya yang akan Frau Drach tunjukkan, tapi suami yang kali itu merasa kurang fit menolak untuk melihat empat kamar lainnya dan memilih untuk langsung mendatangani surat kontrak. Selesai.

Bulan Maret 2016, salah seorang kakak kelas waktu zamannya kuliah di Bandung dulu menghubungi aku, dia pengen kami meet up, karena saat itu aku belum mulai kuliah dan waktu juga kebetulan senggang, akhirnya aku iyakan ajakannya tapi dia minta aku untuk ngejemput orang di Linz. Katanya satu almamater juga di Bandung tapi mungkin aku ga kenal, aku pun menyanggupi karena aku tahu gimana rasanya tinggal jauh dari teman apalagi di kota yang sama sekali terpencil. Berangkatlah aku pertengahan Maret itu ke Linz, lalu ke Bonn dan lanjut ke Köln. Tiba saatnya pulang, aku ajak adik kelasku untuk main ke Saarbrücken bertemu dengan teman satu almamater yang lain dan dia pun menyambut ajakan aku kali itu. Akhirnya berangkatlah kami ke Saarbrücken, sepanjang jalan cerita-cerita seru, mengenai kehidupan di Jerman, kabar Bandung, studi sampai masalah percintaan. Adik kelasku ini bilang kalau dia ingin pergi ke Heidelberg untuk ketemu temennya, karena dia dititipi sesuatu oleh ibu temannya itu, tapi saat itu tidak memungkinkan untuk kami melanjutkan perjalanan sampai ke Heidelberg.

Besoknya tiba saat adik kelasku harus pulang, dia kembali menanyakan apakah jauh jarak dari Saarbrücken ke Heidelberg, aku jawab “Jauh, itu berlawanan arah dengan arah kamu pulang sekarang”. Keliatannya dia sedih makanya saat itu aku berkesimpulan bahwa teman Heidelberg ini bukanlah teman biasa.

Sekembalinya ke Trier tepat dimana aku harus giliran untuk piket di asrama. Aku lihat dijadwal piket ternyata team piketnya barengan dengan kamar nomer 2 dan kamar nomer 4. Oh no, kamar no 4 ini penghuninya sering banget ganti-ganti, kalaupun ada yang sewa biasanya ga pernah piket apalagi penghuni terakhir, si Philip Braun, udah keluar minggu lalu. Tapi karena iseng, aku cek papan nama kamar nomor 4, heeyy… ternyata udah ada yang isi, namanya M. Rizki Fikriansyah. Oh ok, lalu aku masuk kamar dan aku tutup pintunya but… wait, itu orang Indonesia? Aku cek sekali lagi papan namanya, ternyata memang orang Indonesia aku ga salah liat, karena teman yang saat itu menumpang tinggal di aku juga memberi statement bahwa itu nama orang Indonesia.

Aku langsung menelepon teman dekat aku, teman bergosip dan langsung bilang kalau kamar nomor 4 udah ada isinya dan yang isi laki-laki orang Indonesia. Ima, nama temenku, langsung nanya “Cakep ga teh? Barangkali jodoh teteh” aku langsung jawab “Mana aku tahu, orang cuma liat namanya doang” lalu dia menyarankan aku untuk stalking Facebooknya, dan ADA! Aku bilang ke Ima kalau orangnya ga ganteng, nyengir melulu dipotonya, amit-amit deh harus jodoh, buat dia aja ambil semuanya, gitu kurang lebih jawaban aku kali itu. “Dulunya dia di Mannheim” aku kasih info tambahan, entah gimana Ima mikirnya dia langsung berasumsi “Jangan-jangan dia gebetannya adek kelas kita itu teh, pokoknya besok aku dateng kesitu untuk mastiin”.

Dasar Ima kepo, dia motoin papan nama si penghuni kamar nomor 4 dan dikirim ke adek kelas kami. Bukan aku yang kirim karena aku merasa kami ga begitu dekat dan tahu apa jawabannya? Ternyata adek kelas kami ini mengiyakan bahwa si nomor 4 itu adalah temennya a.k.a. gebetannya, what a small world. Aku ga tahu kalau adek kelas kami ini ngasih tahu si nomor 4 kalau yang depan kamarnya itu orang Indonesia, kakak kelasnya. Beberapa kali aku papasan di lorong sama si nomor 4, ga pernah sekalipun ngobrol lebih dari “Hi” udah, selesai, ngeloyor ke tujuan masing-masing.

Sekali waktu pernah ngobrol lama, itu juga si momor 4 cuma nanya doang apa aku punya internet apa ga dan apa mau aku share internet sama dia. Aku pernah ngundang dia ke kamar karena kebetulan kali itu ada dua teman laki-laki lainnya di kamar, si nomor 4 ini datang dan ga tahu kenapa kok aku nervous banget, kalau aku gugup biasanya ngomongnya ngelantur ga tentu arah dan bener aja, ditanya dimana town hall jawabannya panjang banget sampai nyambung ke studenten ID, 😦

Ternyata bener ya, kita harus berbuat baik sama siapa aja, baik yang dikenal ataupun yang ga dikenal sama sekali, karena kita ga tahu darimana datangnya rejeki kita. Pemberi rejeki memang Allah SWT, tapi kita ga akan pernah tahu melalui siapa rejeki tersebut diantarkan kepada kita. Seandainya aku ga ngejemput adek kelas aku, entah dengan cara apa aku dipertemukan dengan suami. Wallahu’alam...

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s