Berteman dengan endometriosis

Setiap kali aku kedatangan tamu bulanan, disamping waktu datangnya yang ga pernah teratur rasanya juga selalu sakit, panas, kram perut, mual dan muntah hingga nggak sadarkan diri udah pernah aku alamin. Mulai dari yang keluarnya banyak banget sampe bikin keleyengan atau cuma satu dua tetes yang waktu kunjungannya cuma tiga sampai empat hari lalu pergi. Aku pikir hal itu wajar-wajar aja karena hormon setiap orang yang berbeda-beda, tapi katanya untuk perempuan seusiaku (waktu itu aku masih 20 tahun) hal itu udah ga normal lagi, karena biasanya lewat umur 17 tahun siklus bulanan itu sudah mulai teratur dan jelas paternnya. Berbekal ‘katanya’ dan kali itu juga aku sering mengeluh sakit perut yang ga kunjung sembuh, berangkatlah aku ke rumah sakit Al Ihsan diantar oleh pacarku (sekarang udah jadi sang mantan) karena kebetulan kakaknya kerja sebagai perawat disana.

Setelah melalui serangkaian tes, akhirnya dokter yang menanganiku saat itu kalau ga salah namanya adalah Dr. Arif, mengatakan bahwa aku memiliki sejenis myoma atau orang Indonesia lazim menyebutnya dengan miom atau kista. Hanya saja miom yang ada di perut aku ini ga bisa dioperasi karena ini bukan ‘daging jadi’ melainkan seperti luka pada dinding rahim yang diakibatkan siklus haid yang tidak lancar sehingga darah yang keluar masih ‘tersisa’ di dalam rahim, dokter Arif bilang namanya endometriosis.

Sesampainya di rumah aku langsung online dan mencari tahu apa itu endometriosis. Ternyata penjelasannya ga jauh beda dengan yang dokter Arif bilang, bahwa endometriosis itu adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang ada di dalam rahim tumbuh di bagian luar rahim. Biasanya perempuan yang memiliki endometriosis sering merasakan sakit di bagian pelvic dan efek lainnya yang lebih dikhawatirkan lagi yaitu kemandulan. Astagfirullah, cobaan apa yang harus aku jalani, diberi ujian seperti itu, yang bahkan kuliah aja aku belum selesai, mikirin untuk nikah juga belum tapi diberi sakit yang salah satu obatnya yaitu ‘katanya’ dengan melahirkan anak, tapi melahirkan gimana orang kemungkinan untuk hamil aja sulit. Mulai dari saat itu aku rutin terapi hormon, ditahan untuk ga mens selama beberapa bulan dengan harapan disaat darahnya keluar semuanya akan keluar dengan tuntas. Tapi yang ada malah aku jadi sering mendapati gumpalan daging sepanjang 2-3 cm yang keluar bersamaan dengan darah haid, astagfirullah.

Aku merahasiakan dari keluargaku kalau aku memiliki endometriosis, karena mereka pasti akan histeris, khususnya mama. Saat aku berangkat ke Jerman, September 2012, aku masih merahasiakan sakitku ini dari semua anggota keluargaku. Kebayang kalau mereka tahu, pasti aku ga akan dibolehin untuk pergi ke Jerman.

Karena rasa sakit yang aku alami semakin parah, akhirnya tahun 2015 aku datang ke salah satu dokter kandungan di Tasikmalaya, bermaksud untuk mengetahui sebenernya apa sih endometriosis itu sekaligus untuk berkonsultasi akan efeknya nanti. Sayangnya, dokter yang kali itu aku datangi ternyata ga begitu enak untuk diajak berkonsultasi. Menurutku beliau agak memandang remeh segala sesuatu dan tidak mempedulikan perasaan pasien yang sedikitnya ngerasa takut kelak ga akan punya anak dan lain sebagainya, hhh… c’est la vie.

Sampai akhirnya Juni 2016 dimana aku kali itu dipaksa untuk pergi ke dokter kandungan untuk bikin janji konsultasi dan aku baru dapet janji untuk berkonsultasi dengan beliau bulan Juli tanggal 29, lama sih emang tapi ternyata kadang menunggu itu salah satu jalan untuk mendapatkan pilihan yang terbaik. Dokter kandungan yang aku datangi kali ini sungguh baik, dia menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan dan ga sekali pun dia berkomentar yang meremehkan seperti contohnya ‘Lah, jangan terlalu khawatir, nikah aja belum’ seperti dokter kandungan yang kali itu aku kunjungi di Tasikmalaya. Dr. Cartagena menyarankan aku untuk melakukan laparoskopie karena dia bilang endometriosis hanya bisa dikatakan begitu bila sudah dilakukan laparoskopie selain itu semuanya masih belum bisa diputuskan dengan pasti. Tapi dokter Cartagena bilang, kalau aku memiliki bentuk rahim yang tidak normal, bentuknya ga bulat seperti telur melainkan seperti bentuk hati yang memiliki dua ‘horn‘. Apa akibatnya kalau orang memiliki bentuk rahim seperti ini, beliau menjawab bahwa disaat kehamilan akan ada resiko bayi lahir prematur atau bahkan mengalami beberapa kali keguguran. Astagfirullah, cobaan apalagi yang harus kami hadapi, tapi aku selalu bersyukur dan bersyukur bahwa Allah memberikan aku pasangan yang begitu peduli dan sayang sama aku, semoga kita bisa menjalani semua ini dengan sabar dan ikhlas, aamiin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s