Menikah vs Single vs Sekolah vs Merantau

Dulu sebelum nikah, kepengennya itu disini ada yang nemenin, ngebayanginnya itu enak kayaknya pulang ke rumah ada yang nunggu, ada temen curhat paling setia dan paling amanah, ada orang yang nyayangin aku dan (semoga) ga akan pernah berpaling. Ternyata setelah nikah, rasanya itu jauh dari yang dibayangkan dulu. Setelah nikah, semua rasa yang dulu pernah dialami (bukan yang dulu pernah ada) itu jadi double impact. Kalau seneng, rasa senengnya jadi double karena nikmatinnya ga sendiri. Kalau sedih, sedihnya jadi double karena sedih pasangan juga harus ikut ngerasain 😦 tapi dilewatin bareng-bareng semua hal yang susah rasanya jadi mudah. Bukan, bukan mudah dalam berarti kesulitannya berkurang, tapi jadi terasa mudah karena aku selalu yakin ada suami yang dengan ikhlas senantiasa menguatkan, yang selalu sabar mendampingi, yang selalu ikhlas nahan pegel kalau bahunya dipake sandaran buat nutupin mata yang udah ga bisa nahan nangis. (P.S. Love you, you’re the best :*)

Tapi ada kalanya rindu saat-saat sebelum nikah, bukan rindu pacarannya loh ya karena aku sama suami ga ngelewatin yang namanya pacaran sebelum nikah, orang kenalnya juga baru, tapi rindu dimana aku masih bisa ngikutin nafsu dan ego kalau aku bisa ngerjain semuanya. Aku termasuk orang yang workaholic, planer aku dalam sebulan bisa penuh dengan agenda kerja dari tempat satu ke tempat lainnya. Bahkan dalam satu hari bisa kerja sampai di tiga tempat dan juga di dua kota yang berbeda. Tapi sekarang pengen kerja banyak juga suami kurang setuju, walau ga nutup kenyataan sih kalau kita berdua dari ke hari ke hari run out of money, mungkin ini kali ya kenapa orang tua selalu bilang kalau mau nikah itu harus mapan dulu, punya kerjaan tetap dulu dan lain sebagainya, tapi insha Allah rejeki selalu ada ya buat mereka yang berusaha, aamiin. Sedih aja waktu nanya ke suami apa alasannya dia ga pengen aku kerja banyak, dia bilang ‘Aku khawatir kamu terlalu cape, pulang ke rumah ga ada waktu untuk belajar, ga ada waktu untuk aku, bahkan ga ada waktu untuk sekedar nemenin aku ngobrol, karena kalau kamu kecapean pasti kamu langsung ketiduran. Kamu akan sibuk dengan kerjaan kamu, aku juga karena kamu ga ada jadi menyibukan diri dengan kerjaan aku dan aku khawatir kita akan ngerasa nyaman dengan orang lain yang saat itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan kita‘, pas denger itu langsung sedih banget, air mata udah berontak mau netes tapi ga mau sampe diliat suami, alhasil ujung-ujungnya cuma bisa meluk sambil membenamkan muka.

Jujur, nikah sambil nyelesein sekolah itu ga mudah, apalagi harus ngurus rumah, kerja dan tugas utama sebagai istri yang harus ngurus suami dan ngurus rumah jangan sampai terabaikan. Lagi-lagi pertolongan dari Allah datang, aku dapat Seminar* yang waktunya mulai dari jam 18.00 sampai dengan jam 20.00, alhamdulillah jadi paginya bisa ngerjain dulu kerjaan rumah, tapi sampai sekarang sih semuanya masih under control πŸ™‚ Aku juga udah dapet kerjaan tambahan, ga banyak sih nambah ke kas keuangannya, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan? Cuma kalau di Jerman enak banget, pajak yang dikenakan oleh pemerintah bagi mereka yang menikah itu ga sebanyak pajak yang dikenakan bagi mereka yang masih single. Apalagi aku dan suami dua-duanya masih berstatus mahasiswa, yang kelas pajaknya itu paling rendah, ditambah kami juga menikah jadi terbukti kan janji Allah bahwa Allah akan melipatgandakan rejeki mereka yang menikah πŸ™‚

Hari ini itu hari pertama uji coba kerja, aku mau nelpon dulu ke orangnya kalau aku ga bisa datang hari ini karena aku kemarin kakinya terkilir dan bengkak sekarang jadinya 😦 Padahal hari ini juga ada seminar jam 12, yang isi seminarnya itu ngejelasin apa yang mengingatkan kita pada kampung halaman. Aku udah nyiapin apa yang nanti mau diomongin, udah nyiapin juga apa yang akan dibawa tapi ya terpaksa harus mengikhlaskan ga datang karena kakinya membengkak 😦

 

Note:

Seminar: Di Jerman perkuliahan bagi mahasiswa yang ngambil Master disebutnya Seminar, tugas akhirnya disebut Hausarbeit yang bentuknya itu makalah beberapa halaman yang sumbernya dari data research yang pernah ada. Kalau untuk Bachelor namanya Vorlesung, tugas akhirnya biasanya disebut Klausur dan Klausur ini persis seperti ujian akhir yang biasa ada di Indonesia.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s